“Tiga syarat menghadapi tantangan global; perkuat kemandirian bangsa, tingkatkan daya saing, dan miliki peradaban bangsa yang mulia”. (Susilo Bambang Yudhoyono)

15 January 2015

3. Tokoh: Jenderal Hoegeng, Sang Polisi Anti Korupsi

Rochimudin | 15 January 2015 | 3:43 AM |
Jenderal Hoegeng Iman Santoso
Hoegeng Iman Santoso. Inilah polisi yang disebut sebagai contoh jenderal jujur yang pernah dimiliki oleh Indonesia. Kapolri yang patut menjadi teladan bagi seluruh anggota Korps Bhayangkara.

Bahkan, Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid alias Gus Dur memiliki anekdot: hanya ada tiga polisi jujur di Indonesia. Mereka yakni patung polisi, polisi tidur, dan Hoegeng.


Hoegeng lahir di Pekalongan, Jawa Tengah, pada 14 Oktober 1921. Terlahir dengan nama Iman Santoso. Semasa kecil sering dipanggil Bugel (gemuk), yang kemudian sampai dewasa lebih populer dipanggil Hoegeng. Maka, menempellah nama itu sehingga menjadi Hoegeng Iman Santoso.


Dia merupakan anak sulung pasangan Soekario Kario Hatmodjo dan Oemi Kalsoem. Sang ayah merupakan seorang Kepala Kejaksaan yang selama hayatnya tidak pernah mempunyai tanah dan rumah pribadi. Sementara sang ibu merupakan perempuan sederhana yang sering menanamkan nilai-nilai budi pekerti baik kepada Hoegeng kecil.


Selama menjabat Kapolri sejak tahun 1968 hingga 1971, Hoegeng dikenal sebagai sosok pemimpin yang bersih. Meski sudah meninggal 14 Juli 2004, kisah kejujuran Hoegeng tak luntur. Kisah Hoegeng itu ditulis dalam memoar Hoegeng, Polisi antara Idaman dan Kenyataan, karangan Ramadhan KH.


Berikut aksi Hoegeng yang mengundang kekaguman itu, sebagaimana dikutip dari Merdeka.com dan berbagai sumber lainnya:



Menyuruh Istri Tutup Toko


Kehidupan Hoegeng sebagai perwira polisi hanya pas-pasan. Oleh karena itu, istri Hoegeng, Merry Roeslani, membuka toko bunga untuk membantu perekonomian keluarga. Dan toko itu cukup laris.


Namun, Hoegeng melarang sang istri melanjutkan toko itu. ‘Perintah’ itu dikeluarkan sehari menjelang dilantik menjadi Kepala Jawatan Imigrasi (kini jabatan ini disebut dirjen imigrasi) tahun 1960.


Merry tentu saja bertanya, mengapa toko itu harus ditutup. Apa hubungannya jabatan kepala jawatan imigrasi dengan dengan toko bunga tersebut.


“Nanti semua orang yang berurusan dengan imigrasi akan memesan kembang pada toko kembang ibu, dan ini tidak adil untuk toko-toko kembang lainnya,” jelas Hoegeng.


Mendapat penjelasan itu, Merry pun bisa memahami dan mendukung suaminya untuk hidup jujur dan bersih. Dia rela menutup toko bunga yang sudah maju dan besar itu.


“Bapak tak ingin orang-orang beli bunga di toko itu karena jabatan bapak,” kata Merry.



Dirayu Pengusaha Cantik


Sebagai pejabat, Hoegeng pernah merasakan godaan suap. Dia pernah dirayu pengusaha cantik keturunan Makassar-Tionghoa yang terlibat kasus penyelundupan. Wanita itu meminta Hoegeng menghentikan kasus itu.


Berbagai hadiah mewah dikirim ke alamat Hoegeng. Namun dia menolak mentah-mentah. Hadiah itu langsung dikembalikan. Tapi si wanita tak putus asa. Dia terus mendekati Hoegeng.


Yang membuat Hoegeng heran, malah koleganya di kepolisian dan kejaksaan yang memintanya melepaskan wanita itu.


Menolak Hadiah


Pernah suatu kali anaknya memperoleh sebuah sepeda yang di masanya sangat keren dan mahal. Entah dari siapa. Hoegeng menolak sepeda itu dan diletakkannya begitu saja di depan rumah. 


Lebih ekstrem lagi, suatu kali anaknya pernah mengurus SIM dengan cara cepat menggunakan jasa anak buahnya. Namun, entah darimana Hoegeng tahu perbuatan anaknya itu. 


Saat SIM selesai dibuat, ia segera menelepon polisi yang mengurusi pembuatan SIM agar tidak memberikan anaknya SIM sebelum mengikuti prosedur yang berlaku. Lebih dari itu, anak kesayangannya pun ditegur keras.


Jenderal Jalanan


Hoegeng tak hanya dikenal jujur. Dia juga tak segan turun ke lapangan melaksanakan tugas sebagai polisi. Meski berpangkat jenderal, dia tak segan turun ke jalan mengatur arus lalulintas. 


Menurut Hoegeng, seorang polisi adalah pelayan masyarakat. Mulai polisi berpangkat terendah sampai tertinggi. Sehingga, dalam posisi sosial demikian, seorang agen polisi sama saja dengan seorang jenderal. 


"Jika terjadi kemacetan di sebuah perempatan yang sibuk, dengan baju dinas Kapolri, Hoegeng akan menjalankan tugas seorang polantas di jalan raya. Itu dilakukan Hoegeng dengan ikhlas seraya memberi contoh kepada anggota polisi yang lain tentang motivasi dan kecintaan pada profesi," demikian ditulis dalam buku Hoegeng-Oase menyejukkan di tengah perilaku koruptif para pemimpin bangsa. 


Hoegeng juga selalu tiba di Mabes Polri sebelum pukul 07.00 WIB. Sebelum sampai di kantor, dia memilih rute yang berbeda dan berputar dahulu dari rumahnya di Menteng, Jakarta Pusat. Dia selalu ingin memantau lalulintas dan kesiapsiagaan aparat kepolisian di jalan.


Menolak Upeti Raja Judi


Ini kisah Hoegeng saat masih berpangkat Kompol. Kala itu warsa 1955. Dia mendapat perintah pindah ke Medan. Dia ditugasi membongkar penyelundupan dan perjudian. Para bandar judi telah menyuap aparat di Medan. Sehingga pisau keadilan menjadi tumpul. Hoegeng diangkat menjadi Kepala Direktorat Reskrim Kantor Polisi Sumut. Dia pindah dari Surabaya ke Medan. Dan belum punya rumah dinas. 


Baru saja Hoegeng mendarat di Pelabuhan Belawan, utusan seorang bandar judi sudah mendekatinya. Utusan itu menyampaikan selamat datang dan juga mengatakan sudah ada mobil dan rumah untuk Hoegeng hadiah dari para pengusaha. 


Hoegeng menolak dengan halus. Dia memilih tinggal di Hotel De Boer menunggu sampai rumah dinasnya tersedia. Kira-kira dua bulan kemudian, saat rumah dinas di Jl Rivai siap ditinggali, Hoegeng terkejut bukan kepalang. Rumah dinas itu sudah penuh barang-barang mewah. 


Ternyata barang itu lagi-lagi hadiah dari para bandar judi. Utusan yang menemui Hoegeng di Pelabuhan Belawan datang lagi. Tapi Hoegeng malah meminta agar barang-barang mewah itu dikeluarkan dari rumahnya. 


Hingga waktu yang ditentukan, utusan itu juga tidak memindahkan barang-barang mewah tersebut. Sehingga dia memerintahkan polisi pembantunya dan para kuli angkut mengeluarkan barang-barang itu dari rumahnya. Diletakkan begitu saja di depan rumah. 


Hoegeng geram mendapati para polisi, jaksa dan tentara disuap dan hanya menjadi kacung para bandar judi. "Sebuah kenyataan yang amat memalukan," ujar Hoegeng.


Mengatasi Kasus Pemerkosaan


Sumarijem merupakan wanita penjual telur ayam berusia 18 tahun. Tanggal 21 September 1970, Sumarijem yang sedang menunggu bus di pinggir jalan, tiba-tiba diseret masuk ke dalam mobil oleh beberapa orang pria. Di dalam mobil, Sum diberi eter hingga tak sadarkan diri. Dia dibawa ke sebuah rumah di Klaten dan diperkosa bergiliran oleh para penculiknya. 


Setelah puas menjalankan aksi biadab mereka, Sum ditinggal begitu saja di pinggir jalan. Gadis malang ini pun melapor ke polisi. Namun, bukannya dibantu, Sum malah dijadikan tersangka dengan tuduhan membuat laporan palsu. 


Dalam pengakuannya kepada wartawan, Sum mengaku disuruh mengakui cerita yang berbeda dari versi sebelumnya. Dia diancam akan disetrum jika tidak mau menurut. Sum pun disuruh membuka pakaiannya, dengan alasan polisi mencari tanda palu arit di tubuh wanita malang itu. 


Karena melibatkan anak-anak pejabat yang berpengaruh, Sum malah dituding sebagai anggota Gerwani. Saat itu, pemerintah Soeharto memang gencar menangkapi anggota PKI dan underbouw-nya, termasuk Gerwani. 


Kasus Sum disidangkan di Pengadilan Negeri Yogyakarta. Sidang perdana tertutup untuk wartawan. Belakangan polisi menghadirkan penjual bakso bernama Trimo. Trimo disebut sebagai pemerkosa Sum. Dalam persidangan Trimo menolak mentah-mentah. 


Jaksa menuntut Sum penjara tiga bulan dan satu tahun percobaan. Tapi majelis hakim menolak tuntutan itu. Dalam putusan, Hakim Ketua Lamijah Moeljarto menyatakan Sum tak terbukti memberikan keterangan palsu. Karena itu Sum harus dibebaskan. 


Dalam putusan hakim dibeberkan pula nestapa Sum selama ditahan polisi. Dianiaya, tak diberi obat saat sakit dan dipaksa mengakui berhubungan badan dengan Trimo, sang penjual bakso. Hakim juga membeberkan Trimo dianiaya saat diperiksa polisi. 


Hoegeng terus memantau perkembangan kasus ini. Sehari setelah vonis bebas Sum, Hoegeng memanggil Komandan Polisi Yogyakarta AKBP Indrajoto dan Kapolda Jawa Tengah Kombes Suswono. 


Hoegeng lalu memerintahkan Komandan Jenderal Komando Reserse Katik Suroso mencari siapa saja yang memiliki fakta soal pemerkosaan Sum Kuning. 


"Perlu diketahui bahwa kita tidak gentar menghadapi orang-orang gede siapa pun. Kita hanya takut kepada Tuhan Yang Maha Esa. Jadi kalau salah tetap kita tindak," tegas Hoegeng. 


Hoegeng membentuk tim khusus untuk menangani kasus ini. Namanya Tim Pemeriksa Sum Kuning, dibentuk Januari 1971. Kasus Sum Kuning terus membesar seperti bola salju. Sejumlah pejabat polisi yang anaknya disebut terlibat, membantah lewat media massa. 


Belakangan Presiden Soeharto sampai turun tangan menghentikan kasus Sum Kuning. Dalam pertemuan di istana, Soeharto memerintahkan kasus ini ditangani oleh Team pemeriksa Pusat Kopkamtib. Hal ini dinilai luar biasa. Kopkamtib adalah lembaga negara yang menangani masalah politik luar biasa. Masalah keamanan yang dianggap membahayakan negara. Kenapa kasus perkosaan ini sampai ditangani Kopkamtib? 


Dalam kasus persidangan perkosaan Sum, polisi kemudian mengumumkan pemerkosa Sum berjumlah 10 orang. Semuanya anak orang biasa, bukan anak penggede alias pejabat negara. Para terdakwa pemerkosa Sum membantah keras melakukan pemerkosaan ini. Mereka bersumpah rela mati jika benar memerkosa. 


Kapolri Hoegeng sadar. Ada kekuatan besar untuk membuat kasus ini menjadi bias. Tanggal 2 Oktober 1971, Hoegeng dipensiunkan sebagai Kapolri. Beberapa pihak menilai Hoegeng sengaja dipensiunkan untuk menutup kasus ini.


Polisi yang tidak dapat dibeli


Mantan Kapolri Jenderal Polisi Widodo Budidarmo punya kenangan soal Hoegeng. Widodo ingat betul pesan Hoegeng padanya. 


"Mas Widodo jangan sampai kendor memberantas perjudian dan penyelundupan karena mereka ini orang-orang yang berbahaya. Suka menyuap. Jangan sampai polisi bisa dibeli," tutur Widodo menirukan pesan Hoegeng. 


Widodo tahu Hoegeng tidak asal memberikan perintah. Hoegeng telah membuktikan dirinya memang tidak bisa dibeli. Sejak menjadi perwira polisi di Medan, Hoegeng terkenal karena keberanian dan kejujurannya. Dia tak sudi menerima suap sepeser pun. Barang-barang hadiah pemberian penjudi dilemparkannya keluar rumah. 


"Kata-kata mutiara yang masih saya ingat dari Pak Hoegeng adalah baik menjadi orang penting, tapi lebih penting menjadi orang baik," kenang Widodo. 


Widodo bahkan menyamakan mantan atasannya dengan Elliot Ness, penegak hukum legendaris yang memerangi gembong mafia Al Capone di Chicago, Amerika Serikat. Saat itu, mafia menyuap hampir seluruh polisi, jaksa dan hakim di Chicago. Karena itu mereka bebas menjalankan aksi-aksi kriminal. 


Tapi saat itu Elliot Ness dan kelompoknya yang dikenal sebagai The Untouchables atau mereka yang tak tersentuh suap, berhasil mengobrak-abrik kelompok gengster itu. 


"Pak Hoegeng itu tak kenal kompromi dan selalu bekerja keras memberantas kejahatan," jelas Widodo.


Dikutip dari: http://www.dream.co.id

No comments:

Post a Comment

//