“Tiga syarat menghadapi tantangan global; perkuat kemandirian bangsa, tingkatkan daya saing, dan miliki peradaban bangsa yang mulia”. (Susilo Bambang Yudhoyono)

28 August 2015

Pembelajaran Kebhinnekaan di SMA 5 Semarang

Rochimudin | 28 August 2015 | 4:05 AM |
Anak adalah warganegara hipotetik, yakni warga-negara yang “belum jadi” karena masih harus dididik menjadi warganegara dewasa yang sadar akan hak dan kewajibannya (Budimansyah, 2007). 

Siswa Kelas XI MIPA SMA Negeri 5 Semarang yang berjumlah 340 siswa, berdasarkan observasi penulis khususnya di kelas XI MIPA 5 yang siswanya memiliki perbedaan agama diperlukan penguatan rasa menyadari kebhinnekaan. Hal ini diperlukan seiring dengan gencarnya berita tentang berbagai ancaman dan gangguan terhadap kebhinnekaan bangsa.

Riset tentang intoleransi dan kekerasan atas nama agama yang dirilis LaKip pada tahun 2011 menunjukan data yang memprihatinkan. Pandangan intoleransi dan islamisme sempit menguat di kalangan pelajar. Ini dibuktikan dengan dukungan mereka terhadap tindakan pelaku perusakan dan penyegelan tempat ibadah (guru 24,5%, siswa 41,1%); perusakan rumah atau fasilitas anggota keagamaan yang dituding sesat (guru 22,7%, siswa 51,3%); perusakan tempat hiburan malam (guru 28,1%, siswa 58,0%); atau pembelaan dengan senjata terhadap umat Islam dari ancaman agama lain (guru 32,4%, siswa 43,3%).

Berikut media presentasinya:


2 comments:

//